Desa Sukamerindu merupakan pecahan dari Desa Tanjung Rambang ( Tanjung dan Jungai) . Penduduk pertamanya yang tinggal di desa Sukamerindu berasal dari sana.. Jadi sejarah awal desa Sukamerindu berkaitan dengan orang-orang yang bermarga rambang yaitu dari orang-orang yang bermukim di sepanjang aliran rambang.
Kita tau bahwa Rambang Lubai dulu adalah satu kesatuan tapi seiring berjalannya waktu wilayah Rambang dan Lubai Telah berpisah menjadi kecamatan sendiri-sendiri. Wilayah rambang berubah menjadi kecamatan rambang kapak tengah dan wilayah Lubai menjadi kecamatan Lubai .
Sejarah mengenai Rambang & Lubai . Dulu rambang itu di huni oleh keluarga adik beradik terdiri dari beberapa laki-laki dan satu perempuan. Semua adik beradik laki-laki tinggal di sepanjang aliran sungai rambang . satu saudari perempuannya itu ketika beranjak dewasa dia menikah dengan seorang pemuda yang berasal dari daerah aliran sungai Lubai sehingga arti nama rambang itu adalah jurai ( ahli waris keluarga atau tempat tinggal penyambung jurai /laki-laki penerus atau yang tinggal bersama atau merawat orang tuanya) dan Lubai itu adalah ebai/betine atau perempuan yaitu saudari perempuannya yang pergi meninggalkan tempat rambang ke daerah Lain atau ikut suaminya sehingga sungai itu di namakan Lubai ( sungai yang di tempati saudara perempuannya) ... Jadi penduduk rambang dan Lubai itu di ikat dengan kekeluargaan.. Dan menjadikan hubungan kedua daerah tersebut dekat dan menjadi satu daerah karena masih ada darah kekeluargaan tersebut.
Selanjutnya Penduduk Tanjung Rambang berasal dari nenek moyangnya dari muara rambang dari sanalah anak cucunya bermukim di sepanjang aliran sungai rambang . tentunya perjalanan kisah ini sangat panjang untuk di ketahui apalagi sudah jauh masanya dengan masa sekarang .bermodal berdasarkan bukti peninggalan yang masih ada untuk bisa digali informasinya walau sedikit dan cerita dari mulut kemulut para sesepuh yang belum pasti juga kebenarannya 100℅ karena masih banyak simpang siur informasi yang berbeda-beda atau belum begitu jelas atau masih misteri sehingga di rangkailah ceritanya seperti ini dan masih berdasarkan tambahan dari kalimat yang saya pahami mengenai informasinya.
Dulu sebelum masehi dan awal tahun masehi di dekat desa Muara rambang ada sebuah gunung yang tinggi katanya. gunung itu di sebut gunung putih. Mungkin disebut gunung putih karna gunung itu tingginya sampai di tutupi awan putih sehingga gunung itu seperti berwarna putih atau mungkin juga di sebut gunung putih karna di atasnya ada salju berwarna putih atau ada alasan lainnya kenapa dikatakan gunung putih.. Gunung ini runtuh atau amblas bertepatan dengan kelahiran Nabi Muhammad SAW. Runtuh menjadi beberapa patahan dan patahan puncak gunung ini, ada di daerah puncak sekuning bukit besar dan bukit seguntang di wilayah kota Palembang.
Selanjutnya dulu Tanjung Rambang itu merupakan sentral atau pusat pemerintahan orang-orang rambang lubai dan kota prabumulih . Kota Prabumulih dulu adalah bagian dari orang-orang rambang lubai sebelum masa kemerdekaan Indonesia . Daerah Prabumulih sebelum kemerdekaan adalah sebuah kalangan yang di adakan pada hari minggu saja hanya sebuah tempat perdagangan biasa yang sedikit penghuninya seiring berjalannya waktu setelah kemerdekaan dan terjadinya perubahan bentuk aturan pemerintahan dan pemekaran tempat wilayah pemerintahan. pemerintahanpun lebih unggul ke daerah prabumulih . Prabumulih semakin hari semakin maju dan berkembang hingga sekarang menjadi kota dan pasar. tanjung rambang menjadi tertinggal hanya sedikit perubahan atau masih suasana pendesaan .




Sejarah prabumulih kenapa cepat berkembang dan menjadi kota besar seperti sekarang yaitu Pada tahun 1896, daerah prabumulih di temukan minyak itam/ pertambangan minyak pertama di sumatera selatan oleh orang yang berkebangsaan Belanda dan terjadi lah pengeboran pertama disana. Pada tahun 1953 masuklah perusahaan pertambangan minyak yang bernama BPM. (sekarang disebut PERTAMINA ) setelah BPM masuk. Dibangunlah jalan-jalan oleh perusahan minyak BPM serta di bangunlah sumur-sumur pengeboran minyak dan stasiun pengumpul minyak( SP) no 7. Sebagai akibat masuknya perusahaan ini sekitar tahun 1953. Berangsur-angsur masyarakat tempo dulu membuat rumah mendekati jalan-jalan yang di bangun oleh perusahaan tersebut. Semakin hari semakin bertambah banyak orang yang be migrasi kesana. selain dari akibat masuknya perusahaan minyak di prabumulih perkembangan daerah prabumulih juga akibat dari prabumulih adalah jalur perlintasan transit transportasi darat baik itu mobil angkutan umum, pribadi maupun kereta api yang merupakan jalur kereta pertama kali di buat di Sumatera selatan dan sempat ada bandara pesawat udara juga yg sekarang tidak lagi beroperasi . Jalan prabumulih adalah jalan penghubung antar desa-desa sekitar ataupun antar kabupaten atau kota seperti desa tanjung rambang, beringin, lampung, baturaja , Muara enim , lahat dan juga ibukota palembang. Selain itu kemajuan daerah prabumulih juga di sebabkan oleh sektor pertanian. waktu itu penghasil pertanian prabumulih begitu melimpah seperti karet,sawit dan pertanian hasnya adalah penghasil banyak nanas hingga penjualannya di ekpor ke luar pulau seperti Jawa dll. Seiring perusahaan minyak semakin berkembang. Pihak perusahaan ini membangun pasilitas kesehatan di prabumulih seperti rumah sakit swasta dan pasilitas-pasilitas lainnya yang juga bisa di manfaatkan warga setempat. Kalangan mingguanpun berubah menjadi kalangan tiap hari hingga menjadi pasar dan sekarang telah menjadi pasar modern dan status kepemerintahanpun berubah menjadi sekelas kota, hingga sekarang menjadi kota yang besar.

Mengenai kata prabumulih, prabumulih berasal dari kata Pehabung Uleh berubah menjadi Peraboeng ngoeleh nama di masa penjajahan Belanda dan pada zaman penjajah jepang berubah lagi menjadi Peraboeh Moelih dengan ejaan sekarang menjadi Prabumulih . Dulu seperti yang di jelaskan di atas tadi wilayah prabumulih termasuk didalam wilayah Marga Rambang lubai dengan Pusat Pemerintahannya berkedudukan di Tanjung Rambang yang tergabung dalam wilayah Pemerintahan Onder Afdeeling Ogan Ulu dengan status Pemerintahan Marga meliputi Marga rambang Suku I, Marga rambang Suku II , marga lubai Suku I marga lubai suku II yang dipimpin oleh Pasirah.pasirah dirambang dan pasirah di lubai. Pasirah di rambang disebut Depati sedangkan pasirah di lubai di sebut raje. Dulu walau pasirah di rambang dan di Lubai punya sendiri-sendiri di daerahnya masing-masing tetapi masih ditetapkan menjadi satu daerah yaitu daerah rambang Lubai dengan pasirah masing-masing . Dengan menyerahnya Jepang kepada Tentara Sekutu maka Wilayah Administratif berubah menjadi Kewadanaan, pada ini lahir Barisan Pelopor Republik Indonesia (BPRI) pada masa ini terjadi perubahan pada Pemerintahan Marga dengan pemberhentian kepala Marga secara Massal, dan mengangkat Kepala Marga Baru sebagai hasil pemilihan langsung oleh rakyat pada tahun 1946 .
Tanjung rambang dan prabumulih dulu merupakan bagian dari kabupaten Muara Enim. Seiring berjalannya waktu tanjung rambang dan prabumulih memisahkan diri menjadi kecamatan dan kabupaten sendiri. Wilayah Prabumulih ditingkatkan statusnya menjadi Kota Admnistratif Prabumulih berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 1982, yang diresmikan oleh Menteri Dalam Negri Ad Interin Bapak Soedarmono, SH. Pada tanggal 10 Februari 1983 dengan luas wilayah 21.953 Hal.
Berikut nama desa marga rambang Suku I :
1. Tanjung Rambang (Tandjoeng Rambang/Gegelang)
2. Baru Rambang (Tandjoeng baru)
3. Sukarami ( Sukerami)
4.Sugihan (sugehan)
5. Tanjung dalam (Tandjoeng Dalam)
6. Tanjung raya ( Tandjoeng Raye)
7. Pagar Agung (Pagar Agong)
8. Sugiwaras (sugewaras)
9. Talang batu
10. Jungai
11. Negeri Agung (Negeri Agong)
12. Sukamerindu (sukarindu)
13. Karang bindu
14. Karangan (Karangan lame)
Berikut nama desa marga rambang Suku II :
1. Prabumulih (Peraboeh Moelih)
2. Pasar Prabumulih
3. Tanjung raman
4. Sukaraja
5. Gunung kemala
6. Karang raja
7. Muara Dua
Berikut nama desa Marga Lubai Suku I :
1. Tanjung Kemala (Tandjoeng Kemale);
2. Gunung Raja (Goenoeng Radje);
3. Baru Lubai (Baroe Loebai);
4. Kurungan Jiwa (Koeroengan Djiwe).
Berikut nama desa Marga Lubai Suku II :
1. Pagar Gunung (Page Goenoeng);
2. Kota Baru (Kute Baroe);
3. Beringin (Beringen);
4. Aur (Auor);
5. Prabu Menang (Permenang);
6. Karang Agung (Karang Agong);
7. Pagar Dewa (Pagar Diwe).
PESIRAH? pesirah adalah kepala marga. Yaitu yang setingkatan kabupaten yang sekarang ini . sedangkan wakilnye disebut PEMBARAP. wewenang dan kedudukan PEMBARAP adalah mewakili PESIRAH apabila PESIRAH berhalangan di tempat. di bawah sang PESIRAH, ade pembantu yang disebut KRIE yang kekuasaannye tentunya ada di bawahnya atau setingkat Desa. jadi KRIE itu adalah kepala Desa . sedangkan di bawah KERIE adalah PENGAWE atau disebut kepala kampung(kepala Dusun) . ada juga PENGHULU atau KETIP yang tugasnya ke urusan keagamaan yang masih ada /bertahan hingga sekarang
di jaman dahulu para PESIRAH dipilih secara terbuka yang katanya mak ini ahi disebut demokrasi. dalam pemilihannye para pemilih atau kontituen berbaris di belakang PESIRAH yang dipilih. peristiwa ini disebut "PILIH CUMPOK". jadi hampir tidak mungkin terjadi kecurangan atau manipulasi seperti KTP ganda atau memilih di tempat lain seperti dalam pilkada sekarang
Seorang PESIRAH juga mendapat gelar DEPATI atau PANGERAN. nah, mereka ini tidak selalu mengatur "pemerintahan", tapi juga mengatur adat BUJANG-GADIS dan perkawinan di zaman itu. semua aturan ini tertulis dalam undang-undang berbahasa melayu yang disebut "OENDANG-OENDANG SIMBOER TJAHAJA". atau "percikan cahaya". undang-undang ini ada sejak KESULTANAN PALEMBANG pada masa Pangeran Ratu Sending Pura (1623—1630). dan diperbarui pada masa Sultan Abdurrahman Cindai Balang (1651—1696).
secara umum, isi undang-undang ini mengatur hak-hak dan kewajiban masyarakat dalam berbagai tingkatan dan jenis kegiatan. misalkan aturan dusun dan berladang, aturan hukum, serta aturan marga.
Di zaman penjajahan belanda dahulu kepala marga atau pasirah di bawah kekuasaan penjajahan belanda . Kepala suku / marga dikuasai oleh konteller dan demang atau kalau sekarang tingkatan jabatannya setingkat bupati yang berkebangsaan belanda..Jabatan yang berada di bawah konteller/kontrolir adalah Ajun Kontrolir, Kliwon, Penewu, Demang, Manri, dan Rangga. Kontrolir (bahasa Belanda: Controleur), adalah sebuah jabatan pemerintahan yang pernah ada di Indonesia pada zaman Hindia Belanda sebagai koordinator pengawasan dari pemerintahan Belanda hingga ke tingkat paling rendah, di struktur pemerintahan Hindia Belanda. Di masing-masing kawedanan diangkat seorang pejabat sebagai kontrolir. Sedangkan di kecamatan, diangkat seorang asisten kontrolir.
Setelah Indonesia Merdeka. pemerintahan tanjung rambang, prabumulih dan seluruh wilayah Indonesia pun berganti baru pemerintahan seluruhnya di kuasai oleh kepala negara atau Presiden RI ir. soekarno dan banyak terjadi perubahan bentuk pemerintahan tetapi masih ada cara-cara pemerintahan yang belum berubah / di pertahankan sampai masanya. Pemerintahan semakin di kembangkan dan diperbaiki hingga sekarang kita mengenal pemerintahan gubernur, bupati, wali kota, camat,kepala desa menteri , dpr, MPR dll .
Tidak ada komentar:
Posting Komentar